Pemeriksaan Kesehatan Bathin Sembilan

Pemeriksaan Kesehatan Bathin Sembilan

Mat Suri menunjukkan kakinya yang mengalami luka terbuka, logat bicara dan pemilihan katanya masih cukup sulit untuk dipahami. Namun penjelasanya bisa dimaklumi , meminta obat untuk lukanya yang tidak bisa sembuh tersebut.  Dari percakapan yang berlangsung siang itu, Mat Suri (45) sudah lama mengalami gatal-gatal yang meninggalkan borok di kakinya. Tangannya masih saja menggaruk mengakibatkan lukanya semakin lebar dan meradang.

Mat Suri, merupakan bagian dari 7 kelompok Bathin Sembilan yang tinggal di dalam kawasan Hutan Harapan yang dikelola oleh PT Reki, perusahaan pemulihan hutan dengan cara restorasi. Mat Suri ditemui bersama keluarganya Mat Muhamad di Manggul, yang terletak antara Kapas Tengah dan  Pos Meranti tepat di jantung hutan harapan. Maria Cristina Fasilitator Kesehatan WARSI yang bertemu kelompok Suku Batin Sembilan ini segera melakukan pemeriksaan dan memberikan obat, berupa obat oleh dan obat oral.  Maria menjelaskan cara penggunaan obat .

“Sakit Kulitnya sudah cukup buruk dan mengalami peradangan, maka perlu dibantu dengan obat oral,”kata Maria. Maria sudah berulang kali memasuki hutan pedalaman jambi dan Riau melakukan pengobatan untuk komunitas adat satu diantaranya adalah Batin Sembilan.

Awalnya perjalanan ke Hutan Harapan kali ini dirancang untuk melakukan pengobatan bagi komunitas yang menghuni kawasan ini ini. Dalam kawasan, terdapat 7 kelompok Bathin Sembilan yaitu  Mat Tam  di sekitar Sungai Ibul dan Tambun Tulang, Mat Liar di sekitar sungai Ibul dan Sungai Badak,  Mat Reman di sekitar Sungai Makela dan Tanam Tubo dan Mat Kecik di sekitar Sungai Keruh. Selain itu ada kelompok yang tinggal di Sub Das Meranti yaitu Mat Attam,  Mat Suri dan Mat Muhamad.

Sebelumnya tim Warsi mendapatkan laporan dari Tim Rekim bahwa ada anggota kelompok yang barus saja menjalani persalinan. Kondisi kesehatan anggota kelompok ini cukup mengkhawatirkan setelah mengalami persalinan di bawah umur, yang berada di kelompok Mat Kecil.

Hanya saja, ketika akan ditemui anggota kelompok ini sudah memencar . Kelompok batin Sembilan, hidup dengan mengandalkan hasil hutan, madu,  jernang, rotan, manau dan lainnya, dan tentu saja berburu hewan untuk dikonsumsi. Kelompok ini hidup menyebar dalam rentang kawasan yang sangat luas dan sangat sedikit berinteraksi dengan masyarakat umum. Mereka hidup dalam pondok-pondok sederhana dalam hutan, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Pola hidup bersih dan sehat masih belum menyentuk kelompok ini.

Kondisi ini menyebabkan kesehatan anggota kelompok ini sering mengalami gangguan. Keluhan yang paling sering ada masalah kesehatan kulit, gigi dan mulut, inpensi saluran pernafasan. Dengan kondisi ini tim kesehatan Warsi melakukan kegiatan pemeriksaan kesehatan, pengobatan langsung. Caranya dengan mengunjungi anggota kelompok, ataupun berkoordinasi dengan pengelola hutan harapan untuk mengumpulkan komunitas di satu titik untuk kemudian dilakukan pengobatan dan pemeriksaan kesehatan. ***

Koordinator Divisi Komunikasi KKI Warsi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
35 Tahun WARSI: Belajar dari Hutan, Menumbuhkan Masa Depan

35 Tahun WARSI: Belajar dari Hutan, Menumbuhkan Masa Depan

Enam Organisasi Masyarakat Sipil Diperkuat melalui Warsi Grant Management untuk Mendukung Implementasi Perhutanan Sosial di Sumatera

Enam Organisasi Masyarakat Sipil Diperkuat melalui Warsi Grant Management untuk Mendukung Implementasi Perhutanan Sosial di Sumatera

Hutan Jambi di Ambang Krisis Ekologis

Hutan Jambi di Ambang Krisis Ekologis

Tantangan Ketahanan Pangan di Desa Perbatasan Kalimantan Utara

Tantangan Ketahanan Pangan di Desa Perbatasan Kalimantan Utara

Si Pemalu dari Belantara Kalimantan

Si Pemalu dari Belantara Kalimantan

Pemulihan Mangrove Sungai Pinang: Penanaman Lebih dari 20 Ribu Bibit sebagai Upaya Memperkuat Ekosistem dan Ekonomi Masyarakat

Pemulihan Mangrove Sungai Pinang: Penanaman Lebih dari 20 Ribu Bibit sebagai Upaya Memperkuat Ekosistem dan Ekonomi Masyarakat